BNN Minta Pemda Riau Serius Tangani Permasalahan Narkotika

bnn

PEKANBARU,SeRiau – Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat berharap Pemerintah Provinsi Riau benar benar serius menangani permasalahan narkotika yang terjadi di Provinsi Riau.

Bukan hanya memberantas pengedaran zat haram yang merusak generasi muda ini. Tapi, juga mampuh menyelamatkan putra bangsa melalui rehabilitasi para pecandu atau pengguna narkotika ini.

Mengingat Riau juga menjadi salah satu pintu masuk barang haram ini dari negara lain. Misalnya saja Malaysia dan Singapura.

Demikian disampaikan Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah , Deputi Bidang Rehabilitasi BNN Pusat , Brigjen. Ida Oetari Purnamasasi S.Ap (24/7/2013) di Pekanbaru.

“Penanganan masalah narkotika ini tidak bisa dianggap enteng. Bukan saja dilakukan pemberantasan. Namun, juga harus diimbangi dengan adanya rehabilitasi para pecandu atau bagi mereka yang mengkonsumsinya,” ujarnya.

Menurut Ida, rehabilitasi ini memang salah satu cara yang akan terus diupayakan oleh BNN dalam menyelamatkan bangsa ini yang saat ini diperkirakan para pengguna barang haram ini sekitar 4 juta liwa lebih.

Untuk itu perlu adanya kerja sama antara lini dan antar sektor untuk mengatasi permasalahan yang tidak bisa dianggap gampang ini.

Termasuk perlunya peranan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memperhatikan permasalahan ini. Mengingat Riau sendiri saat ini berada diposisi 12 besar pengguna narkotika.

“Ya, tentu saja ini perlu adanya peranan dari Pemda yang harus membuka mata terhadap permasalahan yang tidak boleh dianggap enteng ini termasuk juga kami dari pusat serta selulur sektor,” harapnya.

Mengingat barang haram ini banyak dinikmati dan menjadi candu dari berbagai kalangan. Misalnya saja dari , Remaja baik itu anak sekolah SLTP dan SLTA, Mahasiswa, Pegawai Negri Sipil (PNS), Polri, TNI, Pengangguran dan berbagai macam profesi.

Untuk itu penanganan masalah zat yang bisa merusak bangsa ini bukan saja dilakukan pemberantasan tetapi juga perlu adanya rehabilitasi bagi pecandunya.

“Ya, kalau dia candu dan tidak direhab ini ketika dia keluar dari hukuman maka akan tetap dia cari narkoba ini. Karena si pecandu sudah nyaman dengan zat tersebut. Kalu kita lihat saja hapir separoh dari Rumah Tahan, penguninya sebagian besar yang terjerat melalu narkotika ini,” paparnya.

Untuk itu bukan saja di Pemda Riau termasuk Provinsi lain perlu adanya pembuatan atau peningkatan tempat-tempat rehabilitasi.

Dengan demikian perlu memperbanyak tepat rehabilitasi bagi para pecandu-pecandu barang haram ini.

Menurut Ida, tempat rehabilitasi ini tidak musti dibuat dari nol karena akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk efisiensi cukup memanfaatkan rumah sakit yang ada dimasing masing Pemda atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Dan hal tersebut juga berdasarkan arahan dari Ketua BNN Pusat.

“Kita bisa memanfaatkan RSUD atau Rumah sakit lainya untuk memberikan pelayanan rehabilitasi ini. Dan ini merupakan langkah efisiensi. Jika kita bandingkan harus membuat dari awal akan memerlukan biaya yang sangat besar. Efisiensi tempat rehabilitasi ini juga sudah menjadi arahan dari Ketua BNN,” paparnya.

BNN saat ini memiliki tiga Pusat rehabilitasi pecandu narkoba. Sebut saja di Lido Suka Bumi Jawa Barat, Pusat Rehabilitasi di Samarinda Kalimantan Timur, dan di Boducas, Sulawesi Selatan dan pusat rehabilitasi narkoba di Batam yang saat ini sedangan dalam proses.

“Ya, kita siap meberikan bantuan kepada Pemda apa yang kira-kira Pemda butuhkan. Dalam hal ini juga bukan hanya Pemda sendiri tapi juga mengajak dinas-dinas terkait bagai mana supaya narkoba ini tidak ada yang membeli,” tambahnya.

Termasuk juga peranan masyarakat yang menyediakan tempat-tempat rehabilitasi ini.Apakah itu dari segi konseling atau bisa juga dilakukan di Majid, gereja, pondok pesantren atau tempat-tempat lainya.

Dari hasil prevalensi dan penelitian yang dilakukan oleh BNN dan UI penyalahgunaan narkoba di Indonesia untuk tahun 2011 adalah 2,2 persen atau 3,8 juta orang dan bahkan untuk tahun 2015 bisa mencapai 2,8 persen atau 5,1 juta orang jika tidak ada tindakan yang dilakukan.

Sedangkan menurut BNN Kepala BNN Provinsi Riau Kombes Pol Bambang Setiawan untuk daerah Riau sendiri memang sudah ada upaya pembangungan rehabilitasi narkoba. Misalnya saja di Kabupaten Kampar. Menurut rencana Kabupaten ini melalui pemerintah Kabupatenya akan medirikan tempat rehabilitasi narkoba.

“Dari informasi yang kita terima bahwa di Kabupaten Kampar melalui Bupatinya akan mendirikan tempat rehabilitasi narkoba ini. Tentu saja ini merupakan langkah baik yang kita harapkan dapat terlaksana dan bisa menjadi contoh yang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Polda Riau juga sangat mendukung jika tempat-tempat rehabilitasi ini banyak didirikan di Riau. Karena sejauh ini hasil tangkapan atau kasus yang ada di Riau hampir lima puluh persen merupakan kasus narkotika.

“Tentu saja kita sangat mengapresiasi apa yang menjadi program BBN ini. Karena masalah narkoba ini bukan masalah gampang. Kita dari polda banyak melakukan penangkapan tapi kalu tidak ada direhab yang akan terkena lagi. Kita lihat saja dari lapas-lapas yang ada, itu rata-rata hampir setengahnya merupakan mereka-mereka yang tersandung masalah narkoba ini,” kata Dirnarkoba Polda Riau, Kombes Pol Daniel Tahi Monang Silitonga. (aar)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS