Lima Pasang Calon

Dr. H. Syafriadi
Oleh : Dr. H. Syafriadi

Terjawab sudah teka teki berapa calon Gubernur 2013 yang bertarung di Pilkada, 4 September mendatang. Sabtu, 29 Juni lalu, Komisi Pemilihan Umum resmi mengumum kan nama-nama calongub yang lolos verifikasi dukungan dan persyaratan administrasi.

Dari delapan balon, lima pasang dinyatakan lolos. Mereka adalah pasangan Jon Erizal-Mambang Mit (JE-MM), Achmad-Masrul (Beramal), Annas Maamun-Arsyad Juliandi Rachman (Amman), Herman Abdullah-Agus (HA) dan Lukman Edy-Suryadi Khusaini (Lurus).

JE-MM diusung koalisi PAN dan PKS. Sementara Beramal diunggulkan Demokrat-PBR. Amman diduetkan oleh Partai Golkar, sedang Lurus dijagokan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bersama PKB. HA dipasangkan oleh koalisi PBB dan kawan-kawan.

Penetapan lima pasang calon itu disusul pula dengan pencabutan nomor urut oleh masing-masing pasangan yang dilakukan KPU di Lembaga Adat Melayu Riau pada Senin (1/7). Dalam cabut undi itu pasangan HA mendapat nomor urut 1, Amman 2, Lurus 3, Beramal 4 dan JE-MM 5. Usai sudah tahapan awal kerja KPU, dan selanjutnya pasangan calon akan memaparkan visi dan misi mereka dihadapan anggota DPRD Riau untuk disebar-luaskan ke masyarakat. Lalu setelah itu mereka akan memasuki tahapan kampanye selama lebih kurang tiga pekan.

Kendati Pemilukada 2013 diikuti lima peserta, banyak pihak berasumsi bahwa rebutan kursi Gubri tahun ini takkan semeriah pemilukada sebelumnya.
Asumsi ini berangkat dari pandangan, selain tahapan kampanye bersamaan waktunya dengan Ramadhan juga dibatasinya kampanye terbuka yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Para calon hanya akan memanfaatkan pertemuan terbatas dengan masyarakat di samping cara-cara lain seperti berkunjung ke pasar-pasar tradisional, jalan-jalan ke mall, berbuka puasa dan safari ramadhan ke masjid dan mushalla.

Animo masyarakat menyambut pergantian gubernur juga tidak terlalu tinggi terutama di pedesaan. Sosialisasi pemilukada yang terbatas, tingkat ekonomi yang semakin sulit yang diperparah dengan naiknya harga minyak disusul pula kenaikan sembako menjelang Ramdhan dan Idul Fitri, membuat masyarakat seakan melupakan pilkada. Tak terlalu antusias menyambut pilgubri. Pemilihan gubernur dipandang tidak berkorelasi positif mengubah wajah ekonomi rakyat. Tidak trickle down effect terhadap nasib kaum dhuafa yang saban tahun hidup di bawah garis kemiskinan.

Walau geliat pilkada terasa kurang greget, tetapi perebutan suara oleh masing-masing tetap berlangsung alot. Mengapa alot? Ada sejumlah analisis.

Pertama, dari beberapa survey terungkap bahwa popularitas calon rata-rata dibawah angka 70 persen, Sedang elektabilitasnya tak ada yang melebihi 20 persen. Ini mengindikasikan, semua calon harus bekerja ekstra mendongkrak popularitas dan elektabilitas untuk memenangkan pertarungan. Kondisi ini berbeda dengan Pilgubri 2008 dimana elektabilitas HM Rusli Zainal-Mambang Mit jauh diatas rival politiknya Thamsir Racman-Taufan Andoso Yakin dan Chaidir-Suryadi Khusaini.

Kedua, untuk bekerja ekstra masing-masing calon harus memiliki nafas panjang. Saya sering menganalogkan nafas panjang itu seperti membawa kendaraan dalam ukuran kilometer. Seumpama untuk bepergian dari Pekanbaru ke Padang kita harus menempuh perjalanan 300 kilometer, dan agar sampai ke dearah tujuan diperlukan biaya satu juta rupiah, maka jika uang yang tersedia di kantong hanya lima ratus ribu, tentu sampai di Payakumbuh mobil sudah berhenti karena kehabisan biaya. Selanjutnya dari Payakumbuh ke Padang mauu pakai apa? Bendi, kereta angin atau jalan kaki? Sesak nafas dan lambat sampai ke daerah tujuan.

Begitupun pemilukada. Rupiah memang bukan segala-galanya tetapi dengan rupiah, seorang calon dapat bernafas panjang. Dengan rupiah pula masyarakat akan berbondong-bondong mengerumuninya, menjadikan dirinya seperti gula, bergantian mengundangnya karena berharap akan bantuan yang diterima. Dengan rupiah pula sang calon dapat menggerakkan mesin partai dan mesin relawan secara maksimal. Dan pada akhirnya dengan rupiah yang terukur sang calon mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Tanpa rupiah yang memadai, nafas calon akan sesak.

Pertanyaan sekarang, siapa dari kelima pasang calon itu yang mampu bernafas panjang? Itulah yang sulit dianalisis dan dijawab. Mengukur kedalaman laut bisa dengan memasukkan galah panjang. Dan, kalau satu galah tidak cukup dapat disambung dengan dua, tiga, empat atau berapa galah lain sampai galah itu menyentuh dasar lautan. Tapi mengukur rupiah para calon, itu sama artinya kita menggantung asap. Cuma calon sendiri yang tahu berapa kilomemeter nafasnya bertahan dalam Pemilukada Riau 2013. Kita tunggu saja 4 September depan.*

Penulis: Praktisi Pers, Doktor Ilmu Hukum

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS